0

Saya pikir semua jenis teman itu sama, ternyata tidak. Kau beda. Kau, teman yang ku cintai dan ku benci sekaligus. Saya mencintamu karena kau baik dan saya membencimu karena dengan beraninya kau bilang, saya mencintaimu lalu kau menghilang malam itu juga!

Iklan
0

Kata teman tempo hari, saya “tipikal oral”. Cocok jadi seorang dosen. Saya akan bicara banyak di depan orang-orang yang saya sayangi saja. Orang lain, saya suka memilih diam.

0

IMG-7791.JPGApakah kamu masih ingat, kapan pertama kali kamu jatuh hati dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak pernah lepas dengan apa yang kamu cintai dan berjanji untuk selalu membawa dan memeluknya saat kapan pun?

Dengan senang hati, di tanggal 20 Januari 2012, di Cordova. Sebuah toko buku yang cukup sederhana di perempatan jalan Abdesir, Makassar. Mendelegasikan diri ini, untuk membeli sebuah mushaf, berwarna hitam.

Selama enam tahun, saya telah melakukan banyak hal secara bersama-sama. “Seorang kekasih” yang tak pernah meminta lebih kepada kekasihnya. Bagaimana bisa saya lupa, kebaikannya melebihi semua ruang saya miliki. Cukup, bahkan lebih.

Dan, saya masih berusaha bagaimana saling memahami, salah satunya belajar membacanya dengan tepat dan benar. Selanjutnya, menghafal dan mengamalkan. Ada rahasia yang perlu kamu tahu, selain menjadi researcher saya ingin menjadi guru mengaji di perantaun saya selanjutnya. Jangan bilang siapa-siapa ya. Diam dan do’akan. Semoga berhasil.

*

Bandung pagi ini lebih dingin.

0

Kala Hujan Datang Kembali

Dari umur belasan tahun hingga sekarang, saya suka dengan hujan. Saya memiliki alasan kenapa hujan selalu mampu merebut dan menguasai 1/2 hatiku :

  1. Aroma petrikor, ketika hujan pertama kali turun menyentuh tanah. Aromanya wangi
  2. Entah kenapa, hujan dan sore hari selalu berhasil memunculkan “kenangan” terhadap orang-orang baik yang pernah ada beberapa tahun lalu
  3. Romantis, ketika saya tertahan hujan di sebuah halte dalam waktu yang lama. Waktu di mana saya bisa merasakan betul suhu badan saya sendiri dengan cara meringkuk, merasakan harmoni ketika hujan turun ke bumi dengan menyentuh benda yang disentuhnya.
  4. Rintik-rintik hujan seperti lagu nina bobo yang telah berhasil membuat tidur pulas
  5. Hujan, angle terbaik untuk memotret. Posting dengan caption : “Semakin jauh jarak, rindu akan belajar banyak bagaimana cara menunggu yang baik, sebaik bumi menunggu hujan datang kembali di bulan November”
  6. Favorit, soup jagung kala hujan. Yang hangat di rumah selain dekapan ibu, ya soup jagungnnya. I really miss the moment, bu.
  7. Absurd : saya takut suara kilat!

Hujan

 

 

0

3 Jam di Semarang

IMG-7181Solo trip : Saya semakin merasakan kuatnya sebuah intuisi, menikmati bertanya pada diri sendiri, merasakan kembali bahwa ke dua kaki telah melangkah sedikit lebih jauh dari “pintu rumah” dan berada di tengah-tengah kota tua Semarang. Ada kesederhanaan di setiap sudut, jendela-jendela, dan daun pintu yang kutemui. Saya ingin melangkah lebih jauh lagi, Mohon.

 

 

0

Oke, mungkin kamu butuh se-cup ice cream dan sebuah novel baru karena lama rasanya tak menghadiahi diri sendiri. Dan semoga cara ini, kamu bisa melakukan dan menyelesaikan banyak hal : me timeairplane mode HP-mu, melupakan namamu sendiri untuk sekian jam, dan mengabaikan orang-orang baru yang telah mengambil separuh hatimu. Kalau kamu menangis, saya sudah menaruh sebatang cokelat dan sekotak tissue di kantong rahasia tas cokelatmu. Cokelat baik untuk hatimu  yang sedang butuh ketenangan, tissue benda paling ajaib karena mampu meredam resahmu.

 

0

Siapa Namamu?

Kamu tidak seperti dia, yang selalu heboh, dikit-dikit ketawa. Hal kecil apa saja, dia masuk setiap orang baru dia ketemui. Kamu, sebaliknya. Kamu selalu diam, dari apa yang sudah kulihat kamu selalu diam. Pada posisi ini, saya tidak sedang membandingkan karena kita tahu, setiap manusia ada caranya masing-masing. Tapi, apa iya, kamu sepediam itu?

Saya merasa tidak enak, sudah tujuh kali berpapasangan denganmu kita saling diam lalu berlalu. Saya ingin menyapamu,  “Hai…” entah kenapa  bibir ini terasa berat. Apakah kamu juga demikian? Semalam itu berpasangan yang ke delepan, prediksiku. Ada sesuatu di dalam diri ingin menghindarimu tapi sekaligus ingin menyapamu juga tapi yang ada, diam dan berlalu. Dingin.  anehkan?!. Semoga berpapasangan yang ke sembilan, saya memiliki nyali, bukan hanya ingin menyapamu “hai… “ tapi ingin tahu “siapa namamu” dan berharap yang kesepuluh nanti kamu akan jadi teman yang baik.