0

Jangan Datang

Entah apa yang membuat saya seberani ini. Pukul 23:00 saya masih ada di jalan Cipaganti. Salah satu akses menuju kosanku di Sukajadi. Di jarak 50 meter di bawah lampu jalan dekat halte, saya melihat dua sosok. Semakin dekat, saya baru bisa membedakan di kedua mata sipitku ini. Muda mudi yang sedang bersisian yang masih menyisahkan jarak, perkiraanku sepuluh jari orang dewasa yang direnggangkan.

Halte. Saya duduk sambil menghabiskan kebabku yang keburu dingin.

“kau marah?”
“kenapa bisa kamu berkata demikian anak kecil?”
“Plis, Zha. Saya bukan anak kecil yang kau maksud. Iya, kalau lebih tua lima tahun dariku tapi belum tentu saya tidak paham pemikiran 25 tahun sepertimu”
“kau marah?” Zha menimpali
“menurutmu?”
“Nada suaramu agak meninggi malam ini”
“supaya kau dengar, bunyi motor tadi terlalu menganggu”

Suasana menjadi diam. Cipaganti makin dipeluk gelap.

“Zha, kau marah? mohon jawab pertanyaanku” sambil mengapit papan skateboard-nya
“Entahlan. Dar, tapi…”
“Zha, ceritalah, agar saya tahu apa yang membuat kamu diam dan menjauh selama ini”

Zha menarik nafas cukup panjang.

“Dar, kau boleh tidak mengangguku dulu”
“Menganggumu?! maksudnya?”
“Maaf, menghubungiku dulu”
“Alasannya?”
“Jangan pernah datang kalau kamu belum pernah ikhlas menjadi temanku”

Dar, terdiam.

“ikhals seperti apa?”
“Dar, tanpa kau sadari. kau selalu mengukur kebaikan demi kebaikan. Saya tidak mau kau membantuku karna alasan demi alasan. Kau membantuku karna ketidakenakanmu saja bukan karna kamu betul-betul ingin membantu. Dar, jangan pernah datang kalau kamu belum betul-betul ikhlas menjadi temanku.

Dar mengusap punggung skateboard-nya.

“Dar, saya boleh pergi? ini sudah terlalu larut menurutku”

Iklan
0

Sayang Benci Sewajarnya

Perintis Kemerdekaan. Pasti kalian sangat akrab dengan nama jalan ini. Buat kalian yang kuliah, kosan bahkan bekerja. Kalau pun tidak, minimal kamu pernah atau sedang melintas jalan ini untuk ke bandara misalnya bahkan mengunjungi sanak saudara atau seorang teman spesial.

Buat yang sudah  sangat akrab dengan jalan ini, kalau pasti tahu dong nama lorong PK IV, PK VI, PK VII, PK VIII. Papan bicara yang masih bertengker miring di ujung jalan masuk dengan warna hijau tua yang berselimut debu. Tapi, saya ada pertanyaan. Selama enam tahun berselang PK I, PK II, PK III, dan PK V di mana ya…?  kalau kamu tahu, tolong inbox saya ya….

Perintis Kemerdekaan VI saya ketemu Boni. Boni salah satu teman angkatan saya. teman dekat, tidak juga tapi salah satu teman yang cukup asik karena dia punya banyak “referensi” buat kamu yang ingin metime atau melepas kebosanan ditengah banyak polusi beterbangan di kota para daeng ini.

“Hai, Bon….”

            “Hai, Ron…” dengan air muka yang kurang semangat

            “Lemas benar… puasa?”

            “Tidak,  lagi….”

            “Lagi apa? Dapetttt? Hahaha”

            “Iya lagi dapett…..”

Sama Boni saya dapat saja. nyambung. Mungkin ada hubungannya. Pertama, kita sama-sama berangkat dari keluarga yang sangat sederhana. Kedua, orang tua kita juga di kampung tinggal di kompleks dengan RSSS (Rumah Sangat Sangat Sederhana). Ketiga, kita selalu melakukan ritual ini, berhemat. Demi sebuah rasa penasaran yang ingin dibongkar dalam kemasan plastik bening yang menutupinya di jajaran rak Gramed. Keempat, kita sama-sama memiliki banyak mimpi. Saking banyak mimpi-mimpi membuat kita selalu “ribut” dengan mimpi-mimpi kita untuk berbagai tempat di kamar kosan kita masing-masing. Tapi ada ciri yang membedakan antara saya dan Boni. Boni cukup supel dan saya sebaliknya. Waktu kuliah dia punya lima teman dekat. Negara, Asean, Samudra, Bayu, dan Wira.

Jarak antara Toraja dan Makassar itu memakan 9-10 jam. Besok harinya Boni harus tiba pukul 07:00 teng di tempat interview. Kalian tahu, itu interview yang ditunggu-tunggu Boni selama setahun ini. Dan itu salah satu list mimpi-mimpinya yang ingin diwujudkan. Dari info yang sedang menyebar, katanya akan ada demo besar-besaran besok oleh mahasiswa disekitar Perintis Kemerdekaan dan Urip Sumoharjo. Demo ini akan berlangsung dari pagi hingga sore.

Naik pete-pete akan  terjebak macet dan alhasil Boni akan telat. Dan salah satunya, Boni harus minta tolong salah satu dari kelima teman dekatnya.

13:00 wita

BBM

Boni : What’s up bro..?

Negara : Baik bro.

Boni: Mau minta tolong nih…

Negara : Apaan tuh…

Boni : Boleh pinjam motornya sehari tidak?

Negara : Maaf  Bon, besok saya ada kerjaan di luar kota nih”

Boni : Ohh… iya tidak apa-apa bro. See u…

13:10

Boni: Helloo…

Samudra : Hai…. Hai…

Boni : Rah, saya mau minta tolong nih…

Samudra : Apaan tuh?

Boni: Kamu bisa ngantar saya ke Aula Harmoni besok pagi.

Samuderah : Sorry brayyy, besok saya mau konsul proposal tesis mah pembimbing.

Boni : Ohh.. ok ok

13:30

Boni : Hai bro…

Asean : Hai bray…

Boni : Lagi ngapain?

Asean : Lagi tidak ngapain2

Boni : Sean, saya mau minta tolong nih.

Asean : Apa tuh…?

Boni : Boleh tidak  pinjam motor kamu besok pagi.

Asean : Pete-pete saja

Boni : Rencana awal sih gitu, tapi besok pagikan ada demo jadi saya butuh motor agar tidak kena macet. Takut telat. Besok ada interview.

Asean : Sorry bray, besok saya ada kerja kelompok nih.

 

14 :00

Boni : Ping

Bayu : Kenapa bray?

Boni : Besok sibuk tidak?

Bayu : Sibuk tidak sibuk

Boni : Saya mau minta tolong nih.

Bayu : Apaan tuh….?

Boni : Kamu bisa tidak  ngantar saya ke Aula Harmoni?

Bayu : Sorry, besok pagi ada kuliah nih

Boni : Ok, thanks

Bayu : Yup. Thanks.

14: 10

Boni : Hai..

Wira : Hei juga Bon

Boni : Besok kamu sibuk tidak?

Wira : Sepertinya

Boni : Duh… padahal saya mau minta tolong nih

Wira : Minta tolong apaan?

Boni : saya ada niat, mau pinjam motor kamu. Hanya sehari saja.

Wira : sorry, Bon. Besok tuh saya lagi ada acara keluarga. Kamu minta tolong sama teman-teman lainnya saja.

Boni : udah. Mereka pada sibuk semua.

15:00

Sore itu agak panas dan hawanya sampai masuk ke dalam dada Boni karena salah satu dari teman dekatnya. Paling dekat bahkan. Tidak bisa memberi sedikit waktunya buat menolong dia besok. Mereka sibuk.

Boni secara sigap mengambil smartphone-nya di saku tas. Aplikasi. BBM. buat status. Mungkin ini salah satu cara buat ngademin hatinya yang pagi panas.

Personal Message

“Lagi butuh “sayap” nih buat besok”

15:40

Naga : Sayap? Mau terbang kenapa Bon

Boni : Mau terbang ke langit

Naga : Asekkk… mau siaturahmi ke bidadari-bidadari ya…..? Nitip salam sama bidadari yang selendangnya warna ungu.

Boni : Ungu? janda dong!

Naga : Tidak papa janda yang penting…..

Boni : Apa?????

Naga : Pertanyaan serius. Maksud lo “sayap” apa sih…

Boni : “sayap” = motor

Naga : Buat apa?

Boni : buat dipakelah…

Naga : pastinya, tapi buat ke mana?

Boni : Buat urus masa depan

Naga : Ciee…..

Boni : Cie apaan sih? Banyak pertanyaan banget sih kamu…. (emosition “angry”)

Naga : Tidak pake tegang kaleee….

Boni : Kamu sih… nanya2 melulu

Naga : Sorry deh brayy. Saya ada saran nih kalau lo mau sih…

Boni : Boleh asal bisa membantu!

Naga : Ok. Kebetulan nih saya punya dua motor. Kamu bisa pinjam yang matic.

Boni : Are you serius?

Naga : Yes, i’m. Kamu bisa ke tempat saya sekarang.

Boni : Masih alamat yang sama-kan?

Naga : Masih

Boni : Ok deh Brayyy… Tapi saya pinjam dua hari ya…

Naga : Pinjam sebulan pun tidak papa asal jangan dijual

Boni : Hahahaha…. tidaklah.

Naga : Hahaha. saya tunggu sekarang.

Kamu tahu Naga-kan, Ron. Dan kamu tahu “masalah” saya dengan Naga. masalah? Tidak. Waktu semester tiga pas mata kuliah mikrobiologi. Saya sama Naga sempat bersitegang. Bukan sama saya sih… sama kelima teman dekat saya. kebetulan Negara, Asean, Samudra, Wira dan Bayu dikatain CCP (cari-cari perhatian) mah pak David agar mereka bisa lulus di mata kuliah ini. Kamu tahukan mikrobiologi kayak gimana ditambah lagi dosennya yang killer dan pelit nilai. Saya emosi bukan kepalang mah dia sampai-sampai sosmed war. Tiga tahun belakang ini saya sama Naga lagi miskomunikasi. pas lulus kemarin dia invite saya. accept. Dan baru tadi, saya BBM-an sama dia. Dia datang pas saya lagi butuh pertolongan. Saya merasa tidak enak. Kamu mengerti maksud saya kan, Ron?

Pagi ini begitu cerah, secerah wajah Boni. Boni tidak lagi cemberut karena dia sudah punya motor hasil pinjam dari Naga. Dua hari, ujian dan interview berjalan dengan mulus.

Dan Boni tidak langsung balik ke kosan kakaknya. Dia menyempatkan diri ke Gramedia di salah satu salah mall. Boni mau mengecek harga beberapa novel dan salah satu dari novel yang Boni inginkan, akan di filmkan dalam waktu dekat ini.

“Hai… Boni” sebuah tepukan tangan mengenai tas sandangnya

“Hai, Ra! Sama siapa?

“Sama Nita. Dia lagi keliling cari buku. Bon, dari mana? Pake kemeja segala?

“lagi cari masa depan….”  

“Masa depan?” dengan mata melotot

“Iya, saya baru ikut interview ”

“Saya kira, kamu sudah kerja dekat kampus itu?”

“Masa outsourching saya dah habis”

“Tidak dilanjutkan”

“Mau cari pengalaman baru. Ra, Nit, saya duluan ya….”

“Cepat benar. Bon. saya, Nita, dan porsonil Pondok Sahabat mau nobar nih. 30 menit lagi mereka tiba.

“Pondok Sahabat?”

“Semuanya malah. Sampai-sampai ibu kosan ikut juga.

“jadi Negara, Samudra, Asean, Bayu dan Wira ikut?”sambil mengeryitkan dahi

“Iya! malah Negara yang buat usul’

‘Saya kira Negara, Samudra, Asean, Bayu dan Wira pada sibuk dua hari ini”

“Sibuk apaan…”

“Dua hari ini mereka dikosan saja. Tidak terlihat sibuk. Mereka libur. karena dua hari ini demo besar-besaran. Bagaimana Bon, gabung?” Rara dengan gaya centilnya

“Tidak, Nantilah saya ikut”

Salam sama anak Pondok Sahabat ya…. Khusus buat Negara, Samudra, Asean, Bayu dan Wira”

Boni, kaget bukan main. Mereka berbohong. Buat apa coba? Wah, that’s crazy.   Persahabatan tidak dilihat dari lama atau sebentar kita bergaul tapi dilihat seberapa “peka” orang yang kita kenal terhadap masalah yang kita hadapi yang membutuhkan sebuah pertolongan tanpa harus meminta.Terkadang “memberi” banyak tidak menjamin segalanya. Semua ada takaran. Ambang batas yang tidak bisa dilampaui karena semua ada aturan yang harus dipatuhi seperti sayang dan benci tidak perlu berlebihan, sewajarnya saja. Bukankah semua yang berlebihan akan membuat mabuk dan akan menimbulkan penyakit yang serius. Benarkah?

16:00

BBM

Boni

Personal Message

“Saya merasa nilai kejujuran makin melemah. Entah apa penyebabnya. Apakah kalian merasa demikian, ke lima sahabatku?”.  

Negara : Ping

Samudra: Ping

Asean: Ping

Bayu: Ping

Wira: Ping

Boni-Power Off

Padam…

#