0

Bergerak

Deadline revisi sisa seminggu lagi yang artinya penelitian hampir di depan mata. Jujur, pada tahap ini seperti durian runtuh selama wara-wiri sebagai mahasiswa pascasarjana di Bandung. Jauh-jauh hari, saya sudah firasat bakalan nggak lulus karena merasa nggak pede dengan kemampuan saya. Dan lagi-lagi, Allah Maha baik, Dia selalu menepis keraguan dan selalu menyakinkan kalau satu tahap harus dilalui dengan berusaha, percaya diri, dan selebihnya adalah tawakal. Ya, saya lulus, itu bertanda kalau seminar usulan riset saya diterima, Alhamdulillah.

Belum apa-apa sih, saya lagi belajar menikmati gelombang tinggi nan deras ini. Ibaratnya, saya seperti calon Surfer yang sedang belajar berdiri di surfboard di tengah lautan yang dalam. Jatuh berkali-kali, diseret ombak, dan nelangsa. Dan berjalannya waktu, saya mulai nyaman dengan semua ini

Well…

Pesan ini yang selalu “memaksa” saya bergerak. “Selamat belajar, jangan pernah berhenti karena hanya mendengar cerita orang lain dan asumsi yang berlebihan terhadap jalan yang akan dihadapi” dosen yang baik. Terakhir, pesan ibu dan teman-teman, mencari ilmu itu perjalanan jihad loh, Mud. Fine!. Jadi, saya memiiki alasan kenapa saya harus bertahan dan memilih jalan ini.

*

Wifi di perpus kampus saya, kencang pisan! jadi, sukak deh (nggak usah dibaca)

 

 

 

 

 

Iklan
0

Surat Buat Hanu

Dear Hanu

Alhamdulillah, Bandung baik-baik saja walau hidungku masih suka meler ketika subuh menjelang.

Han, kemarin saya menonton kembali film “Doraemon Stand By Me”. Dan kamu tahu? saya ingin punya teman seperti Doraemon tapi seketika itu juga saya larat karena kurang apalagi teman-temanku yang kumiliki saat ini, mereka menyebalkan tapi baik, salah satunya kamu, Hanu. Meski jarakmu yang bermil-mil dari posisiku sekarang, kamu selalu punya alasan dan waktu untuk membaca dan membalas surat-suratku. Menurutku, itu sebuah penghargaan besar. Semoga kuliahmu di sana baik-baik saja. Han, hasil jepretanmu keren, sepertinya kamu punya bakat jadi “tukang photo” deh, hahaha.

Well…

Han, apakah salah kalau saya masih pada pendirianku? menjaga jarak. Saya sudah berhasil dalam hitungan bulan untuk tidak menyebut namanya dalam setiap percakapanku dengan orang-orang yang mengenal dia, kamu tahu kan?, teman dia, temanku juga.

Selasa kemarin, dia menghubungiku.

Han, di dalam pikiranku hanya ada dua. Tidak pernah membalas pesan singkatnya kemarin  atau mem-block nomornya di akunku. Dengan cara ini, dia bisa tahu kalau saya sedang “memerontak” yang tidak bisa saya lakukan didepannya.

Saya butuh jawabanmu. Semoga yang kamu tawarkan tidak mengecewakan pihak mana pun.

 

Temanmu yang kece

Banu

 

 

 

 

0

Siangku Sendiri

Ini romantis menurut jomblo yang kurang libur dan banyak tugas : ketika menghabiskan siangnya di sebuah kedai pizza, segelas jus manga, dan secara sengaja Tuhan menguyur hujan dengan indahnya di luar sana. Well, siang ini sempurna.

Jomblo memang begitu, mojok sendiri, makan sendiri, mendoakan diri sendiri.

Sebelum saya usai tulisan ini dan meminta membungkus pizza yang tak bisa kuhabiskan. Saya mau bilang : Mud, semoga tesismu cepat kelar ya. Nikah cepat-cepat, kasihan banyak junior di fakultas yang perlu “diselamatkan”.

Terakhir, Barakallahu Fii Umrik ya Mud.

0

Laut : Keep Istiqomah Ya…

Senang, ketika orang yang pernah kita kenal berubah kearah lebih baik. Kabar terakhir saya tahu dari social media, dia mulai aktif salah satu UKM, di mana familiar dengan sebutan akhi.

Sebut saja namanya Laut, pertama kali bertemu di salah satu komunitas yang sangat asik yang mengurusi anak-anak dan cita-cita di tahun 2015. Waktu itu, dia masih berstatus mahasiswa baru jurusan teknik di salah satu sekolah tinggi di Makassar. Dengan gayanya yang anak teknik (berdasarkan pandangan) saya : T-shirt, flannel tanpa dikanci, jins warna gelap, dan sepatu gunung,  isi tas wajib : laptop, kamera DLSR dan tampil apa adanya.

Kita saling mengenal karna intensitas bertemu kalau lagi rapat di komunitas asik itu. Pada akhirnya, kita saling silaturahim, sebelum ke Bandung,  saya sempat main tempat masa kecil si Laut.

Saya sebagai teman dan memposisikan sebagai kakak, semoga Laut istiqomah di tempat bergaulnya sekarang. Langkah yang kau tempuh sekarang (insyaallah) itu yang paling pas, kenapa saya bilang demikian karna saya pernah merasakan berada pada orang-orang yang tidak hanya mementingkan dirinya sendiri tetapi juga orang lain. Saya tahu, kita masuk di golongan itu tidak lantas tak berbuat “salah”, setidaknya kita punya rem kalau dan akan melakukan salah. kalau kita jatuh, kita punya teman untuk saling membantu dan saling mengingatkan. Nikmati masa itu, rengkuh ilmunya, dan pada akhirnya kau akan berterima kasih atas pilihanmu nanti. Trust me!

Keep Istiqomah, barengan!

0

Jangan Datang

Entah apa yang membuat saya seberani ini. Pukul 23:00 saya masih ada di jalan Cipaganti. Salah satu akses menuju kosanku di Sukajadi. Di jarak 50 meter di bawah lampu jalan dekat halte, saya melihat dua sosok. Semakin dekat, saya baru bisa membedakan di kedua mata sipitku ini. Muda mudi yang sedang bersisian yang masih menyisahkan jarak, perkiraanku sepuluh jari orang dewasa yang direnggangkan.

Halte. Saya duduk sambil menghabiskan kebabku yang keburu dingin.

“kau marah?”
“kenapa bisa kamu berkata demikian anak kecil?”
“Plis, Zha. Saya bukan anak kecil yang kau maksud. Iya, kalau lebih tua lima tahun dariku tapi belum tentu saya tidak paham pemikiran 25 tahun sepertimu”
“kau marah?” Zha menimpali
“menurutmu?”
“Nada suaramu agak meninggi malam ini”
“supaya kau dengar, bunyi motor tadi terlalu menganggu”

Suasana menjadi diam. Cipaganti makin dipeluk gelap.

“Zha, kau marah? mohon jawab pertanyaanku” sambil mengapit papan skateboard-nya
“Entahlan. Dar, tapi…”
“Zha, ceritalah, agar saya tahu apa yang membuat kamu diam dan menjauh selama ini”

Zha menarik nafas cukup panjang.

“Dar, kau boleh tidak mengangguku dulu”
“Menganggumu?! maksudnya?”
“Maaf, menghubungiku dulu”
“Alasannya?”
“Jangan pernah datang kalau kamu belum pernah ikhlas menjadi temanku”

Dar, terdiam.

“ikhals seperti apa?”
“Dar, tanpa kau sadari. kau selalu mengukur kebaikan demi kebaikan. Saya tidak mau kau membantuku karna alasan demi alasan. Kau membantuku karna ketidakenakanmu saja bukan karna kamu betul-betul ingin membantu. Dar, jangan pernah datang kalau kamu belum betul-betul ikhlas menjadi temanku.

Dar mengusap punggung skateboard-nya.

“Dar, saya boleh pergi? ini sudah terlalu larut menurutku”

0

Seorang Teman yang sedang Rindu

Entah kenapa di setiap perjalanan-perjalanan jauh dan angin siang itu, tanpa diminta selalu membuka kotak-kotak rindu yang sudah terletak indah pada tatakannya. Hai kamu, saya rindu!. Sejujurnya, saya tidak pernah membayangkanmu di setiap lamunanku, menyelipkan namamu di setiap obrolanku dengan temanmu atau berharap lebih untuk menemui di liburan semester kali ini, tidak. Entah kenapa, perjalanan jauh di angin siang ini, saya merindu dan mengeja namamu.

Saya rindu melihatmu dari jarak jauh, mataku berbinar ketika kau bersandar ditembok itu sembari membaca, dan saya minta maaf ketika menolak ajakanmu di sore hujan itu. Saya canggung di setiap orang baru, itu alasanku yang belum bisa ungkapakan di depanmu. Berharap, kau membaca tulisan ini lalu memakluminya.

Jika kau menyetujuinya, saya ingin sekali kau ke Bandung sembari mengajakmu bersantai di salah satu Cafe di Dipati Ukur tak jauh dari kampus. Jika kau menyetujuinya, di cafe nanti saya akan memesan kopi, saya butuh sedikit cafein. Mungkin kau memesan jus alpukat, yang saya dengar-dengar kau lagi menjaga pola makanmu agar jauh dari penyakit DM, yang sempat kau ceritakan di siang itu.

Kalau kau ke Bandung dalam dekat ini, japri saya ya. Saya ingin mengajakmu ke Jatinangor. Saya ingin kau memilihkan satu judul novel yang akan ku baca sampai dipenghujung Desember.

Kalau kau butuh bantuan, bilang saja. jangan terlalu canggung, kau pernah bilang di salah satu temanmu yang saya kenal kalau kau sedikit kikuk itu berbicara denganku. Kawan, saya tidak seseram dan seserius itu kok, sumpah. Saya memang cukup pendiam tapi tidak sekaku yang kau bayangkan.

Hai kamu, saya rindu! Mari kita memulai kembali, menjadi teman.

0

Briyani di Setiabudhi 

Siang ini, saya berada di sebuah sudut rumah makan Timur Tengah di jalan Setiabudi. Sebenarnya, saya bukan tipikal yang suka menghabiskan waktu dan makan di luar rumah, kosannya lebih kerennya.

Menu: Briyani Lamb dan Manggo Juice, pilihan makan siangku. Sebenarnya, menu ini berasalan. Kenapa Briyani Lamb, makanan timur tengah ini selalu di sebut berulang-ulang beberapa chapter di novel saya sedang baca, Ayat-Ayat Cinta 2. 

Saya sempurna menghabiskan makan siangku dan saya merasa makan bersama Paman Hulusi, Misbah, Ozan, Tuan Taher, Paman Eqbal, dan tentunya Fahri. Mereka dekat sedekat aroma rempah Briyani Lamb ini.

Oh iya, jadi ingat, orang ini selalu menjadi sosok yang indah setiap kesempatan, Syaikh Utsman. Dia guru talaqqi Fahri waktu di Mesir. 

Duduk sendiri di sudut sambil memunculkan kehadiran mereka sebuah hiburan yang cukup menyenangkan.

Terakhir, saya ingin bertemu mereka, seperti mereka.