0

Briyani di Setiabudhi 

Siang ini, saya berada di sebuah sudut rumah makan Timur Tengah di jalan Setiabudi. Sebenarnya, saya bukan tipikal yang suka menghabiskan waktu dan makan di luar rumah, kosannya lebih kerennya.

Menu: Briyani Lamb dan Manggo Juice, pilihan makan siangku. Sebenarnya, menu ini berasalan. Kenapa Briyani Lamb, makanan timur tengah ini selalu di sebut berulang-ulang beberapa chapter di novel saya sedang baca, Ayat-Ayat Cinta 2. 

Saya sempurna menghabiskan makan siangku dan saya merasa makan bersama Paman Hulusi, Misbah, Ozan, Tuan Taher, Paman Eqbal, dan tentunya Fahri. Mereka dekat sedekat aroma rempah Briyani Lamb ini.

Oh iya, jadi ingat, orang ini selalu menjadi sosok yang indah setiap kesempatan, Syaikh Utsman. Dia guru talaqqi Fahri waktu di Mesir. 

Duduk sendiri di sudut sambil memunculkan kehadiran mereka sebuah hiburan yang cukup menyenangkan.

Terakhir, saya ingin bertemu mereka, seperti mereka. 

Iklan
0

Baru Mulai

Saya benar-benar rindu untuk mengunjungi setiap sudut content blog ini. Mencium kembali, selalu kudapati aroma parfum Casablanca. Di tempat ini, saya bisa memilih duduk di ruang mana saja, di sofa dengan model dan warna saja. Menyandarkan punggung, selonjorkan kaki, lalu menikmati minuman hangat di tengah hujan lebat kota ini. Oh iya, saya terlalu malu untuk menyatakan, saya sibuk. Saya sedang berpikir sebuah kalimat untuk mewakili rutinitasku kurang lebih tiga bulan ini sebagai mahasiswa postgraduate . Saya sudah dapat kata-kata yang cocok nan manis untuk mewakili, saya sedang menikmati proses perkuliahan. Lebih tepatnya, saya sedang beradapatsi gaya pengajaran dosen dan gaya belajar teman saya. Betul, saya ketinggalan sedikit jauh selama tiga bulan ini. Saya belum menjadi teman diskusi yang tepat untuk semua mata kuliah. Ibaratnya, saya sedang belajar mengeja dan teman-teman sendiri sudah membaca dengan lancar. Kau bisa bayangkan, bagaimana posisi saya saat ini?

Kemarin, secara tidak sengaja curhat kecolongan salah satu teman. Padahal, saya tidak ingin ditahu bagaimana “nyerinya” adaptasi saya rasa, yang sedang kuobati ini. Dari panjangnya chattingan kami di salah satu social flatorm yang bisa saya tanggap, saya HARUS mengurangi jatah tidur saya untuk me-review mata kuliah yang saya anggap sulit.

Allah sudah menunaikan mimpiku untuk masuk di jurusan ini, Mikrobiologi. Cukup aneh memang, kalau ada seorang Ners yang bercita-cita menjadi seorang Microbiologist, saya salah satunya. Setelah masuk di lingkungan ini, saya seperti anak kecil yang baru belajar jalan yang dipaksa harus berlari. Kebayang kan?, tulang-tulang kakiku akan nyeri karna saya paksa, telapak kaki akan sedikit terluka, dan pertengahan jalan saya sudah kehabisan napas dan sangat haus. Saya sangat terpressure tapi saya nikmati karna itu pilihan dan sudah kumimpikan sejak lama, saya ingin menjadi bagian bidang ini, saya ingin menjadi bagian “penyumbang” ide, dan masih masih penarasan kenapa bakteri hobi resisten terhadap antibiotik. Lewat itu semua, saya melangkah. Langkah ini, Masih buram memang tapi tidak ada yang tidak mungkin kan?!. Oke Mud, tutup laptop, buka bukumu, esok masih ada UTS. Bismillah, melangkalah BOY.

#Microbiologistwannabe

0

Ada Orang

Ada orang-orang yang dicintai tapi pergi. Sebagian orang yang tak pernah diharapkan selalu ada. Saya tidak tahu, kau ada dibarisan mana. Saya takut menerka karna kau suka diam lalu menghilang.

0

Setelah Hujan Reda

Akhirnya kau pergi dan saya mengiyakan. Saya menganggap ini sebuah cara untuk menyembuhkan, jika kau menyimpan luka kalaupun tidak, ini salah satu cara pamit tanpa harus membuang banyak energi.

Akhir-akhir ini hujan sedang rindu-rindunya ke bumi. Entahlah, apakah ini cara hujan menyembuhkan atau berpamitan setiap orang yang pernah dia ketemui. Saya berharap malam ini hujan deras, besoknya lagi agar saya punya alasan untuk mengulur waktu. “Iya, saya ke sana. Setelah hujan reda”.

Iya, saya menghindarimu dan hujan adalah alasan untuk tidak memenuhi sesegera mungkin, maaf.

Hujan deraslah…

0

INI PUISI JUGA

Di dalam kamar kosan tidak ada yang bisa diajak berbincang. Tetangga kosan pun belum bisa diajak berbicara, mereka terlihat sibuk dan mereka selalu lupa pulang ke kamar sendiri. 

Saya masih suka memilih mematut diri di meja kecil yang posisinya menghadap ke utara. Melihat dan membaca berkali-kali mading kecil yang bertuliskan jadwal kuliah, jadwal lomba, kalimat penyemangat, dan daftar nama-nama kota dan negara yang ingin dikunjungi, dasar pemimpi ulung.

Tiap malam, saya berada pada ritme dan lirik lagu yang sama. Kuputar berkali-kali, dengan cara ini, saya bisa memunculkan cara berbincang yang nyaman, tanpa tetangga tanpa kau sekalipun. Saya mulai nyaman.

0

Saya tahu obatku sendiri, butuh istirahat dan sebuah puisi darimu. Semoga besok lekas kembali, Mud.

Jangan sakit!

0

Beri Dia Kesempatan

Fiksi.

Ketika kembali lagi ke dua kaki ini menyentuh lantai bandara, saya berharap akan banyak berubah dari caramu melihatku, menilaiku bahkan bagian yang yang selalu kueyahkan tapi kuinginkan, perhatianmu.

Ketika kembali lagi ke dua kaki ini menyentuh salah satu sudut kota, hal yang ingin ku tahu dan berharap di dalamnya, kau mulai lupa dengan namaku.

Tapi, apa maksud semua ini, jarak rumahmu dan kosanku berlantai tiga itu hanya tujuh menit dalam tarikan napas pendek bus kota. Hal yang tak ingin kutahui, di mana kau akan menghabiskan waktu berlama-lama. Mengingatmu saja seperti meinginkanmu, saya benci bagian ini. Saya mencintaimu dan membencimu sekaligus. 

Apa warna cat rumahmu sekarang, apa yang sedang kau lakukan dengan isi hatimu itu menjadi urusanmu sendiri. Saya tahu, orang yang pernah dekat tiba-tiba menjauh selalu membutuhkan jawaban untuk menghilangkan prasangka. Baiklah, kujelaskan padamu. Saya memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengenal kebaikanmu dan belajar bagaimana cara menunaikan rindu segera mungkin.

Mengalah, saya mengelak. Masih dengan jawaban yang sama, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengenalmu. Ketika, dalam sebulan saya tak menghubungimu berarti saya juga telah memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengenalku dekat, maaf. 

Cemburu, saya diam. Saya merasakan betul, bagaimana napas berhembus kaku ke dua lubang hidungku. Ya, kataku. Dia lebih berhak lebih terhadapmu. Dia bahagia dan tersiksa dengan caranya memilikimu, kagum yang tertahan. Dia telah menangis dan bercampur doa dibandingkan cara pertemuan kita di jauh hari. Berikan dia kesempatan untuk menyampaikan. Semoga kau tidak menolak karna ketidakenakkanmu terhadapku. Saya bukan siapa-siapa lagi, saya milik bulan dan bintang malam ini jadi apa kau yang risaukan. Awalnya memang rumit tapi pada akhirnya akan terbiasa. Berikan dia kesempatan. Saya baik-baik saja.